Zakat Bisa Pulihkan Ekonomi Nasional

BERBAGIHARAPAN.ID – Potensi nilai zakat di Indonesia mencapai Rp 327,6 triliun. Berdasarkan nilai tersebut, zakat bisa berperan untuk memulihkan ekonomi nasional dengan membantu masyarakat miskin yang terdampak pandemi. Dengan membantu masyarakat miskin, kemampuan ekonomi mereka bertambah sehingga mampu mengangkat daya beli masyarakat.

Bisa dikatakan, daya beli masyarakat dan ekonomi nasional itu saling berhubungan. Apalagi ekonomi menurun, maka begitu juga daya beli masyarakat. Karena ketika ekonomi menurun, pastinya terjadi inflasi dan mempengaruhi kenaikan harga barang.

Maka diharapkan dengan dana zakat yang disalurkan untuk membantu masyarakat miskin, dapat meningkatkan daya beli mereka dalam  membeli bahan pokok selama pandemi terjadi.

Belajar dari Umar bin Abdul Azis

Salah satu masa yang berhasil dalam masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia mampu melakukan berbagai reformasi yang berdampak sangat signifikan bagi ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya. Semua jenis harta kekayaan wajib dikenai zakat. Termasuk zakat dari harta kekayaan hasil usaha atau jasa, honor, gaji, atau berbagai hasil pendapatan profesi lainnya. Manajemen zakat dikelola secara profesional.

Tidak heran jika pada masa kekhalifahannya, zakat berlimpah ruah tersimpan di baitul maal. Dalam satu waktu, petugas zakat atau amil zakat cukup kesulitan mencari orang miskin yang membutuhkan. Mereka rata-rata dalam kondisi yang cukup bahkan mampu untuk membayar zakat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan diterima dari Zureiq, Maula dari Bani Fuzarah, bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis surat padanya, yakni setelah ia diangkat menjadi khalifah: “Pungutlah dari setiap saudagar Islam yang lewat dihadapanmu – mengenai harta yang mereka perdagangkan – satu dinar dari setiap empat puluh dinar! Jika kurang, maka dikurangkan pula menurut perbandingannya, hingga banyaknya sampai dua-puluh dinar. Jika kurang dari itu walau sepertiga dinarpun, biarkanlah jangan dipungut segurusy-pun juga! Dan tulislah bukti lunas pembayaran mereka yang berlaku sampai tanggal tersebut di tahun depan” (Sayyid Sabiq)

Penyaluran zakat di masa Umar bin Abdul Aziz diberikan kepada beberapa kategori prioritas. Misalnya saja untuk orang sakit, kaum difabel, dan dhuafa. Zakat juga diberikan kepada mereka yang sedang dihukum dan terlilit hutang. Umar sangat memperhatikan kamu yang membutuhkan, sampai pernah ia membuatkan rumah makan khusus untuk kaum fakir, miskin, dan ibnu sabil. Hal ini tentu sesuai dengan kriteria 8 golongan zakat yang telah ditentukan dalam Al-Quran.

Pada suatu hari, ia pernah memerintahkan Yazid bin Abdurrahman yang saat itu seorang Gubernur Baghdad, untuk membagikan harta baitul maal yang sudah berlimpah di baitul maal. Namun Yazid menyatakan bahwa hampir semua orang sudah mendapatkannya. Akhirnya, Umar pun memerintahkan Yazid bin Abdurrahman untuk mencari orang yang sedang usaha dan membutuhkan modal. Ia membuat kebijakan untuk memberikan modal tersebut dan tanpa harus mengembalikannya.

Dari hal ini, kita bisa melihat bahwa memang kebijakan Umar bin Abdu Aziz saat itu membuktikan banyak sekali hikmah dari zakat, bahwa zakat bukan saja memberantas kemiskinan, namun juga mampu mengangkat roda perekonomian masyarakat dalam tataran yang lebih tinggi lagi.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *